Tumpak Sewu : Hidden Paradise of East Java
Sebuah chat masuk di whatsappku dari salah seorang teman baik, namanya Mbak Dwik. Pesannya singkat :
“Hidz, mau traveling ke Tumpak Sewu? Awal bulan depan”
Cuma hitungan detik kubalas “Budaalll”
Dilanjut dengan mbak Dwik menjelaskan detail perjalanan seperti siapa saja yang ikut, naik apa, budget, dll.
Agak melipir sebentar ya, fyi, Air Terjun Tumpak Sewu sudah masuk dalam wishlistku sejak tahun 2019. Aku memang suka follow akun-akun fotografi bertema alam baik di Indonesia maupun luar negeri di Instagram. Kebetulan waktu itu di Exploreku muncul foto Air Terjun Tumpak Sewu yang masyaAllah banget kerennya. Fotonya dari atas gitu dan kelihatan Air Terjunnya jatuh melingkar gitu. Cakep abiiiis pokoknya.
Dalem hati “Wah, Aku wajib kesini, ngga tau kapan dan gimana caranya pokoknya aku harus kesini”.
Dan eng ing eng, tanpa ada plan jauh-jauh hari, ngga ada hujan ngga ada angin, tiba-tibaa aja ada yang ngajakin. Aaaaaa Senengnya bukan main!!!!
Nah mendekati hari H, rombongan kita bertambah jadi ber-8. Aku ngajak temenku, si A ngajak si B, dan seterusnya. Kita terbagi jadi 2 kloter keberangkatan.
~
3 Oktober 2020
Kloter 1 sudah berangkat Sabtu pagi ke Lumajang karna kebetulan Sabtu mereka libur.
Rombonganku, kloter 2, memutuskan mampir menginap di Malang terlebih dahulu karena ada salah satu rombongan yang baru pulang kerja Sabtu sore sekaligus menjemput salah satu personil yang ada di Malang, dan kebetulan dia yang tahu jalan.
~
4 Oktober 2020
Minggu pagi pukul 05.30 kami keluar dari hotel menuju Lumajang. Perjalanan harusnya memakan waktu 2-3 jam.
Naasnya, tepat setelah kami keluar dari wilayah kota Malang, hujan turun dan makin deras. Fyi, medan menuju Lumajang melewati bukit dengan jalan yang meliuk-liuk, tidak begitu lebar, dan satu sisi jalannya berdampingan dengan jurang. Selain itu kalian bakal banyak menjumpai simpangan dengan truk-truk pembawa pasir, batu dan kayu disepanjang jalan. Jadi kalau kesana menggunakan motor, pastiin yang bonceng kalian benar-benar tegen (Anyway, tegen itu bahasa Indonesianya apa ya? wkwk).
Nah udah medannya seperti itu, ditambah dengan hujannya yang makin deras dan jalannya licin banget, asli.
Akhirnya, ditengah perjalanan kami sepakat buat berteduh dulu di Indomaret sampai hujannya agak reda. Ada sekitar 30 menitan dan akhirnya kami melanjutkan perjalanan dan sampai ke TKP pukul 10.00 pagi.
~
Nah, fyi setahuku ada beberapa jalur masuk ke Air Terjun Tumpak Sewu diantaranya jalur Tumpak Sewu, Nirwana, dan Goa Tetes (Correct me if I’m wrong).
Aku masuk lewat jalur Tumpak Sewu yang ciri-cirinya pas kalian masuk disambut gapura warna biru. Di posko tersebut, kalau kalian bawa ransel atau barang berat bisa dititipkan ke warung yang ada disitu ya. Usahakan saat nanjak kalian bawa barang seperlunya aja, seperti : HP, uang dan air minum secukupnya. Kalau bisa bawa tas yang waterproof ya karena selama perjalanan kalian bakal kena tetesan atau percikan air yang jatuh dari atas dan kebetulan medan tanjakannya juga berair.
Nah, balik ke jalur Tumpak Sewu, menurut info jalur ini memang jalur yang paling cepet sekaligus ekstrim. Gimana engga, jalurnya didominasi oleh tangga-tangga dari besi yang disenderin dengan kemiringan yang hampir tegak lurus. Aduh gimana ya jelasinnya, intinya tangganya miring gitu tapi hampir tegak lurus. Dimana dibawahnya, of course, jurang.
Tapi jangan khawatir, kalian bakal selalu nemuin tali putih atau tali ban yang dijulurkan kebawah disampingnya si tangga buat tambahan pegangan kalian. Sebelum nanjak turun kalian bakal dikasih tips sama penjanga loketnya agar menuruni tanggga dengan pose membungkuk atau menghadap tangga. Bisa juga menuruni tangga dengan pose terlentang atau membelakangi tangga, tapi menurut aku lebih aman dan nyaman yang pertama sih. Anyway, you decide 😊.
Lewat jalur ini sampai ke bawah kira-kira membutuhkan waktu 30 menit dengan beat jalan kaki yang sedang. Sangat menantang tapi seru banget kalo menurutku.
![]() |
| Ini tipikal anak tangganya, dan ada sepanjang turunan modelnya seperti ini :) |
Oiya, tips dari aku sebelum kesini jangan lupa olahraga dulu
ya minimal seminggu sebelum berangkat, sering-sering peregangan, jogging atau
sekedar jalan kaki. Sebenarnya kalian akan mampu-mampu aja menurutku melewati tanjakannya, cuma
kalau nggak olahraga, badan kalian bakal kaget dan setelah nanjak nyampe rumah
esoknya bakal encok, kram, dan linu luar biasa. That’s happened to me soalnya,
bahkan meski aku udah olahraga rutin, efeknya masih kerasa sampai 3 hari
setelahnya.
Untuk tiket masuknya sendiri sekitar 10.000/orang ditambah biaya parkir kurang lebih 5.000/motor. Kebetulan waktu itu penjaga loketnya langsung menanyakan ke kami ada berapa orang dan ada berapa sepeda, dan langsung memberikan totalan plus diskonnya. Tapi untuk acuan kurang lebih yang aku sebutin tadi ya... correct me if I'm wrong.
~
Setelah sampai dibawah, kalian bakal ketemu sama sebuah warung, satu-satunya warung. Ada kopi, teh, air, dan tentunya Indomie kesayangan kita semua. Jadi jangan khawatir laper, lesu, dahaga, kalian bisa kongkow cantik dulu disini sambil mengisi perut. Ada toiletnya juga kok.
Nah dari bawah situ, kalian masih harus menyusuri sungai plus tanjakan dikit menuju air terjunnya. Hati-hati banget ya pas disini, kadang arus airnya deras dan tanjakannya licin.
Ada cerita lucu, waktu kita menyebrangi jembatan besi kecil sebelum garis finish, sandal temenku kebawa arus (kenter kalo bahasa jawanya wkwk). Dan pas kejadian itu, aku kebetulan lagi ngevideoin dan kerekam dong adegan itu. Apa ya, disitu aku galau, antara mau nolongin dan lanjut ngevideoin haha. Dan kalian pasti udah tau jawabannya.
~
Sampe di air terjunnya, guwilaa… asli bagus bangetttt… kalo kalian pernah ke air terjun lain yang ada di Jawa Timur kemudian ketemu sama Tumpak Sewu, menurutku air terjun yang lain jadi minder. Tapi memang sesuai lah sama perjuangannya.
Setelah puas ngevideo dan foto-foto, baliknya kami sok ngide banget cari jalur berbeda yang “diharapkan” lebih manusiawi dan lebih cepat. Kata Bapaknya itu jalur Goa tetes.
Sesuai arahan Bapak penjaga warung, kita diinfo kalau perjalanan keatas landai tapi lebih jauh dibanding rute awal, kira-kira 5 kali lipatlah. Meski sudah diinfo begitu, kami tetap saja berangkat lewat rute Goa Tets tersebut, dan Wow!!!! Amazing sekali :)
![]() |
| Ini potret Tebing Nirwana dari samping |
Seru??? Bangettt!!! Wkwkwk…
Oiya, sebelum ke Goa Tetes kita melewati Tebing Nirwana, itu juga cantik banget loh!!!
Nah, di goa tetes kalian bakal basah-basahan dan bisa foto-foto disitu, indah banget pemandangan dari situ.
Dari Goa Tetes kami naik terus melewati jalan yang lebih manusiawi, berupa tangga-tangga dari batu-batu dan beton gitu yang sudah tertata layaknya tangga. Mudah sih, tapi berasa jauuuhh nggak sampai-sampai. Karna mungkin memang lumayan landai ya, jadi jatohnya jauh banget, asli!
~
Sesampainya kami diatas, karna kami lewat rute yang berbeda jadi kami juga berakhir ditempat yang berbeda. Nah, disana kalian akan disambut bapak-bapak tukang ojek yang menawarkan ojekan ke Posko jalur Tumpak Sewu (tempat kami tiba pertama). Seingatku tarif ojeknya 20-25 ribu. Yang kalau ditempuh jalan kaki memakan waktu sekitar 15-25 menit, tergantung beat jalan kaki kalian.
Karna kami sudah lelah luar biasa, akhirnya kami memutuskan 2 orang diantara kami ngojek ke posko awal dan membawa motor kesini untuk menyusul yang lain. Begitu seterusnya. Biar hematt doong, hehe.
Yang bikin makin seru sih, selama perjalanan dari malang sampai tiba di Tumpak sewu dan trekking turun-naik cuaca tidak begitu mendukung. Kami ditemani rintik hujan dari awal sampai akhirnya kami selesai mandi dan ganti baju di posko pertama. Bayangkan saja, sudahlah medannya extrim ditambah lagi hujan-hujanan yakan?
Tapi balik lagi, trip Tumpak Sewu ini termasuk salah satu trip yang sangat memorable dan bakal selalu aku ingat sih. Tempatnya, drama perjalanannya, orang-orangnya, semua jadi paket komplit yang masyaAllah sekali 💓.


Komentar
Posting Komentar